Komunikasi Antarbudaya

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Kita mulai dari suatu asumsi dasar bahwa komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan interaksi dengan manusia lainnya.Hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang terisolasi karena tidak adanya komunikasi (Mulyana dan Rahmat,2006:12).

Pesan itu muncul dalam perilaku manusia.Ketika kita melambaikan tangan,senyum,bermuka masam,menganggukan kepala atau memberikan suatu isyarat,kita juga sedang berperilaku atau berkomunikasi.Pesan – pesan tersebut digunakan untuk mengomunikasikan suatu hal kepada seseorang.Sebelum perilaku disebut pesan,perilaku harus memenuhi dua syarat.Pertama perilaku harus diobservasi oleh seseorang,dan kedua perilaku harus mengandung makna.Artinya,setiap perilaku yang dapat diartikan atau mempunyai arti adalah suatu pesan.Perilaku kita merupakan pesan,Kedua,perilaku mungkin disadari atau tidak disadari (terutama perilaku nonverbal seperti membungkuk di kursi,membetulkan kacamata,tersenyum). Perilaku yang tidak disengaja ini menjadi pesan bila seseorang melihatnya dan menangkap suatu makna dari perilaku tersebut.Porter dan Samovar dalam (Mulyana dan Rahmat,2006)

Dengan konsep hubungan perilaku sadar atau tidak sadar dan sengaja atau tidak sengaja.Komunikasi dapat didefinisikan sebagai apa yang terjadi bila makna diberikan kepada suatu perilaku.Bila seseorang memperhatikan perilaku kita dan memberinya makna,komunikasi telah terjadi terlepas dari apakah kita menyadari perilaku kita atau tidak dan sengaja atau tidak sengaja.Bila kita memikirkan hal ini,kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak berperilaku.Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi.Dengan kata lain,kita tidak dapat untuk tidak berkomunikasi,komunikasi pasti terjadi.Saat tidur pun sesungguhnya kita berkomunikasi,tidur kita bisa berarti pesan letih atau istirahat.

UNSUR – UNSUR KOMUNIKASI

Definisi kita tentang komunikasi telah bersifat umum,untuk menampung berbagai keadaan di mana komunikasi terjadi.karena tujuan kita dalam mempelajari komunikasi adalah untuk mengembangkan keterampilan – keterampilan yang kita terapkan dengan sengaja. Definisi kerja komunikasi di sini akan menekankan komunikasi yang dilakukan dengan sengaja.Batasan kita tentang komunikasi juga akan merinci unsur – unsur komunikasi dan beberapa dinamika yang terdapat dalam komunikasi.

Komunikasi sekarang didefinisikan sebagai proses dinamik transaksional yang mempengaruhi perilaku sumber dan penerimanya dengan sengaja menyadari (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka salurkan (channel) guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu. Dalam transaksi harus dimasukkan stimuli sadar tak sadar, sengaja tidak sengaja,verbal dan non-verbal dan konstektual yang berperan sebagai isyarat – isyarat kepada sumber dan penerima tentang kualitas dan kredibilitas pesan.

Dari definisi tersebut dapat diidentifikasi ada 8 unsur khusus komunikasi dalam konteks sengaja.Pertama adalah sumber (source) , orang yang memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi. Kebutuhan ini berkisar dari kebutuhan social untuk diakui sebagai individu, hingga kebutuhan berbagai informasi atau untuk mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang atau kelompok. Kedua penyadian (encoding), kegiatan internal seseorang untuk memilih dan merangsang perilaku verbal dan non-verbalnya yang sesuai dengan aturan – aturan tata bahsa dan sintaksis guna menciptakan suatu pesan . Hasil dari perilaku menyandi adalah pesan (message) baik pesan verbal maupun non – verbal.

 

Unsur keempat adalah saluran (channel),yang menjadi penghubung antara sumber dan penerima. Unsur kelima,penerima (receiver), orang yang menerima pesan sebagai akibatnya menjadi terhubungkan dengan sumber pesan . Penerima bias yang dikehendaki atau mungkin yang tidak dikehendaki sumber. Unsur keenam penyadian balik (decoding) , proses internal penerima dan pemberian makna kepada perilaku sumber yang mewakili perasaan dan pikiran sumber.

Unsur ketujuh, respons penerima (receiver respons), menyangkut apa yang penerima lakukan setelah ia menerima pesan. Respons bias beranekaragam bias minimum hingga maksimum. Respons minimum keputusan penerima mengabaikan pesan,sebaliknya yang maksimum tindakan penerima yang segera, terbuka dan mungkin mengandung kekerasan. Komunikasi dianggap berhasil bila respons penerima mendekati apa yang dikehendaki oleh sumber. Unsur delapan, umpan balik (feed back), informasi yang tersedia bagi sumber yang memungkinkannya menilai keefektifan komunikasi yang dilakukannya. Porter dan Samovar dalam (MUlyana dan Rahmat, 2006).

PROSES BERLANGSUNGNYA KOMUNIKASI

Kedelapan unsure tersebut , hanyalah sebagian saja dari factor yang berperan selama suatu peristiwa komunikasi. Bila kita memikirkan komunikasi suatu proses, ada beberapa karakteristik lainnya yang membantu kita untuk memahami bagaimana sebenarnya komunikasi berlangsung.

Pertama, komunikasi itu dinamik. Komunikasi adalah suatu aktivitas yang terus berlangsung dan selalu berubah. Kedua, kimunikasi itu interaktif. Komunikasi terjadi antarsumber dan penerima . Ini mengimplikasikan dua orang atau lebih yang membawa latar belakang dan pengalaman unik mereka masing – masing ke peristiwa komunikasi, ini mempengaruhi interaksi mereka. Ketiga, komunikasi tidak dapat dibalik (irreversible), artinya sekali telah mengatakan sesuatu dan sesorang telah menerima dan men-decode pesan, kita tidak dapat menarik kembali pesan itu dan sama sekali meniadakan pengaruhnya.

Keempat , komunikasi berlangsung dalam konteks fisik dan konteks social. Ketika kita berinteraksi dengan sesorang, interaksi tidaklah terisolasi, tetapi ada dalam lingkungan fisik tertentu. Lingkungan fisik meliputi objek fisik tertentu seperti mebel, karpet, cahaya, keheningan atau kebisingan, dan sebagainya. Artinya symbol yang bersifat fisik juga mempengaruhi komunikasi.

 

 

 

PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Persepsi individu mengenai dunia sekelilingnya, orang, benda, dan peristiwa mempengaruhi berlangsungnyaKomunikasi Antar-Budaya. Pemahaman dan penghargaan akan perbedaan persepsi diperlukan jika inginmeningkatkan kemampuan menjalin hubungan dengan orang yang berbeda budaya. Kita harus belajarmemahami referensi perseptual mereka, sehingga kita akan mampu memberikan reaksi yang sesuai dengan

ekspektasi dalam budaya mereka. Karenanya pengertian secara umum tentang persepsi diperlukan sebagailandasan memahami hubungan antara kebudayaan dan persepsi.Persepsi merupakan proses internal yang dilalui individu dalam menseleksi, dan mengatur stimuli yangdatang dari luar. Secara sederhana persepsi dapat dikatakan sebagai proses individu dalam melakukankontak/hubungan dengan dunia sekelilingnya. Dengan cara mendengar, melihat, meraba, mencium danmerasa kita dapat mengenal lingkungan dan sadar apa yang terjadi di luar diri kita. Apa yang terjadisebenarnya ialah bahwa kita menciptakan bayang-bayang internal tentang objek fisik dan sosial sertaperistiwa-peristiwa yang dihadapi dalam lingkungan. Dalam hal ini masing-masing individu berusaha untukmemahami lingkungan melalui pengembangan struktur, stabilitas, dan makna bagi persepsinya.Pengembangan ini mencakup kegiatan-kegiatan internal yang mengubah sistem stimuli menjadi impuls-impuls (rangsangan) yang bergerak melalui sistem syaraf ke otak, serta mengubahnya lagi ke dalampengalaman-pengalaman yang bermakna. Kegiatan internal perseptual ini dipelajari. Setiap orang lahirsudah dengan alat-alat fisik yang penring bagi persepsi, seperti halnya dengan alat untuk mampu berjalan.Dalam hal ini orang haru belajar untuk mencapai kemampuan tersebut. Secara umum proses persepsimelibatkan tiga aspek :1. StrukturJika kita menutup mata, memalingkan muka dan dan kemudian membuka mata, kita akan melihatlingkungan yanng terstruktur dan terorganisasikan. Apa yang kita hadapi mempunyai bentuk, ukuran,tekstur, warna, intensitas, dan lain-lain. Bayangan kita mengenai lingkungan merupakan hasil darikegiatan kita secara aktif memproses informasi, yang mencakup seleksi dan kategorisasiinput/masukan. Kita mngembangkan kemampuan membentuk struktur ini dengan mempelajarikategorisasi-kategorisasi untuk memilah-milah stimjulasi eksternal.Kategorisasi untuk mengkalsifikasikan lingkungan ini dapat berbeda-beda antara orang yang satudengan lainnya. Kategori tergantung pada sejarah pengalaman dan pengetahuan kita. Misalnya kata µrumah¶ konsep fisiknya akan berbeda antara orang asia dengan orang eskimo.Objek-objek sosial dan fisik juga akan mempunyai struktur yang berbeda-beda tergantung padakebutuhan saat itu. Fungsi misalnya bisa digunakan sebagai kategori. Dalam membeli pena kitamempunyai beberpa kategori seperti warna, ukuran dan sebagainya.2. StabilitasDunia realitas yanng berstruktur tadi mempunyai kelanggengan, dalam arti tidak selalu berubah-ubah.Melalui pengalaman kita mengetahui bahwa tingi/besar seseorang tetap , walajupun dari bayanganterfokus pada mata kita berubah seiring dengan perbedaan jarak. Walaupun alat-alat panca indera kitasangat sensitif, kita mampu untuk secara intern menghaluskan perbedaan-perbedaan atau perubahan-perubahan dari input sehingga dunia luar tidak berubah-ubah.3. MaknaPersepsi bermakna dimungkinkan karena persepsi-persepsi terstruktur dan stabil tidakterasingkan/terlepas satu sama lain, melainkan berhubungan setelah selang beberapa waktu. Jikatidak, maka setiap masukan yang sifatnya perseptualakan ditangkap sebagai sesuatu yang baru. Danakibatnya kita akan selalu berada dalam keadaan heran/terkejut/aneh dan gtiak ada yag nampakfamiliar bagi kita.Makna berkembang dari pelajaran dan pengalaman kita masa lalu, dan dalam kegiatan yang ada tujuannya.Kita belajar mengemangkan aturan-atruan bagi usaha dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan atruan-aturanini kita kita bertindak sebagai pemroses aktif dari stimulasi kita mengkategorisaikan peristiwa-peristiwa dimasa lalau dan sekarang. Kita menjadi pemecah masalah yang aktif dalam usaha mencari makna darilingkunagan kita. Artinya, kita belajar untuk memberi makna pada persepsi-persepsi kita yang dianggapmasuk akal jika dihubungkan dengan pengalaman masa lalu, tindakan dan tujuan masa sekarang, danantisipasi kita tentang masa depan.Suatu hal yang pokok dalam makna ini adalah sistem kode bahasa. Dengan kemampuan bahasa, kita dapatmenangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi warna dan merumuskankategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik pada pengalaman-pengalaman, kita dapat mengingat,memanipulasi, dan membagi bersama dengan orang lain, serta menghubungkan mereka pada pengalaman-pengalaman lain melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu. Makna,karenanya, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan bahasa dan tergantung pada penggunaan kta atas kata-kata yang dapat memberi gambaran secara tepat.

Etnosentrisme dan Stereotip

Etnosentrisme yaitu suatu kecenderunganyang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagaisesuatu yang prima, terbaik, mutlak dandiepergunakan sebagai tolok ukur untukmenilai dan membedakannya dengankebudayaan lain.

 

Menurut Sumner (1906), manusia padadasarnya seorang yang individualis yangcenderung mengikuti naluri biologismementingkan diri sendiri sehinggamenghasilkan hubungan di antaramanusia yang bersifat antagonistic (pertentangan yang menceraiberaikan)

Teori etnosentrisme Sumner mempunyai tigasegi, yaitu:1.sejumlah masyarakat memiliki sejumlah cirikehidupan sosial yang dapat dihipotesiskansebagai sindrom,2.sindrom-sindrom etnosentrisme secarafungsional berhubungan dengan susunandan keberadaan kelompok serta persainganantarkelompok,3.adanya generalisasi bahwa semuakelompok menunjukkan sindrom tersebut.

Dimensi dalam Komunikasi antar Budaya

Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan dalam konteks Komunikasi Antar-Budaya, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan:

1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan

Umumnya Dimensi pertama menunjukan bahwa istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada macam-macam tingkat lingkupan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Misalnya dengan pemberian title pada sebuah kelompok.

2. Konteks sosial tempat terjadinya Komunikasi Antar-Budaya

Dimensi kedua menyangkut Konteks Sosial, meliputi bisnis, organisasi, pendidikan, akulturasi imigran politik, konsultasi terapi, dan sebagainya. Komunikasi dalam semua konteks sosial tersebut pada dasarnya memilih persamaan dalam hal unsur-unsur dasar an proses komunikasi (misalnya menyangkut penyampaian, penerimaan dan pemrosesan). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latarbelakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran, penggunaan pesan-pesan verbal dan non-verbal serta hubungan-hubungan antaranya.

3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan Komunikasi Antar-Budaya (baik yang verbal maupun non-verbal).Dimensi ketiga berkaitan dengan saluran komunikasi. Dimensi ini menunjukan tentang saluran apa yang dipergunakan dalam Komunikasi Antar-Budaya.

AKULTURASI DAN PROSES KOMUNIKASI YANG MACET

Contohnya seperti TKW yang bekerja di Arab Saudi ,TKW sebagai pendatang harus memiliki potensi akulturasi yang memadai untuk bias menyesuaikan diri dengan budaya baru. Potensi akulturasi ini ditentukan oleh beberapa faktor:

1. Kemiripan budaya antara pendatang dengan imigran.

2.Usia saat bermigrasi.

3.Latar belakang pendidikan.

4.Karakteristik kepribadian dan pengetahuan budaya pribumi.

Dalam konteks TKW dan majikan, kemiripan budaya terletak pada agama, yang mungkin juga dipahami secara berbeda. Bahasa dan nilai – nilai budaya lainnya jelas berbeda. Usia TKW yang dewasa, ketika berangkat jelas merupakan kendala bagi akulturasi, begitu juga pendidikan yang relative rendah dan kurangnya pengetahuan mengenai budaya pribumi serta kurangnya pengetahuan mengenai budaya pribumi serta kurangnya pengetahuan mengenai budaya pribumi serta kurangnya pengetahuan mengenai budaya pribumi serta kurangnya keterampilan untuk bekerja di Arab Saudi, hal ini juga menjadi kendala bagi proses akulturasi,

Bayangkan, apa yang terjadi bila TKW tidak memeahami bahasa Arab, dan majikan tidak memahami bahasa TKW. Keduanya mungkin akan frustasi. Dalam posisinya yang lemah, kemungkinan besar TKW akan memperoleh hardikan, cacian atau bentakan berkepanjangan dari majikan, bila membuat kesalahan meskipun kecil. Bila Ke-dua pihak berselisih kemudian diselesaikan di pengadilan, hakim biasanya cenderung berpihak kepada pribumi yang bias dan mampu menjelaskan persoalan ( bersilat lidah ).

 

 

Sebagai anggota baru dalam budaya pribumi, TKW harus menghadapi banyak aspek kehidupan asing. Asumsi – asumsi budaya dan pola – pola tanggapan yang mereka peroleh dan anut sejak mereka kecil menyebabkan banyak kesulitan kognitif, afektif, dan perilaku dalam menghadapi lingkungan yang baru. Nilai budaya yang mereka bawa dari kampung halaman, untuk menafsirkan dunia fisik dan social mereka yang baru, menjadi macet atau bahkan berantakan.

 

Kemampuan berbahasa  akan diasosiasikan dengan kredibilitas yang tinggi (kejujuran), sementara ketidakmampuan berbahasa akan diasosiasikan dengan kredibilitas yang rendah (kekurangjujuran), Bahkan tanpa memperhitungkan persoalan bahasa apapun, bukan satu hal yang aneh bila hakim cenderung berpihak kepada pribumi daripada kepada pendatang, bila terjadi konflik di antara keduanya.

 

Dengan demikian, karena ketidakpahaman bahasa dan budaya setempat, dan kurangnya keterampilan yang mereka miliki, betapa rentan TKW di negeri rantau. Mereka bias dituduh melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan, misalnya dituduh mencuri, meskipun tidak mencuri, dituduh membunuh, meskipun tidak membunuh.

 

Dalam perspektif etnosentrisme kemungkinan tersebut bukan tidak mungkin terjadi orang Arab merasa menjadi majikan, sedangkan TKW bias saja dianggap hamba sahaya.

 

Dari uraian di atas dapat ditarim beberapa kesimpulan :

1. Dalam suatu masyarakat majemuk, masing – masing etnik (bangsa) merasa lebih efektif berkomunikasi dengan anggota etniknya daripada dengan etnik lain, keadaan ini menggambarkan manakala struktur suatu masyarakat  semakin beragam maka semakin kuat juga etnisitas intraetnik. Sebagian besar perubahan efektivitas komunikasi antar etnik dipengaruhi oleh faktor prasangka social antar etnik.

2. Adanya tiga faktor prasangka sosial yang diduga mempengaruhi efektivitas komunikasi antaretnik, yaitu :

* Stereotip

* Jarak Sosial

*Sikap Diskriminasi

 

 

 

3. Faktor mayoritas, minoritas juga menentukan eksistensinya sebagai komunikator dan komunikan, TKW cenderung di posisi yang lemah.

4.Etnosentrisme sulit dihidangkan, karena bersumber dari dalam individu atau masyarakat dan termasuk kebutuhan, kebutuhan akan pengakuan diri.

 

STUDI PADA GAYA BICARA DAN BERBUSANA MAHASISWA

Saat sekarang ini gaya hidup merupakan pembeda kelompok yang muncul dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar stratifikasi social. Setiap kelompok dalam stratum social tertentu akan memiliki gaya hidup yang khas. Dapat dikatakan gaya hidup inilah yang menjadi symbol prestise dalam stratifikasi social. Dengan kata lain, gaya hidup dapat dipandang sebagai “KTP” bagi keangotaan suatu startum social.

Untuk menangkap gaya hidup ini dapt kita lihat dari barang – barang yang dipaki dalam kehidupan sehari – hari yang biasanya bersifat modis, cara berperilaku (etiket), sampai bahasa yang digunakan tidak untuk  tujuan berkomunikasi semata – mata, tetapi untuk simboL identitas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s